Sunday, September 4, 2011

Formwork Striking/Bongkaran Bekisting Pelat untuk sistem Slab & Beam

Formwork
Sangat sedikitnya referensi mengenai bongkaran bekisting /formwork striking atau removal of formwork menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk membuat bahasan tersebut. Jika kita lihat kurikulum di perkuliahan jurusan teknik sipil di berbagai kampus, mungkin materi perkuliahan tentang bekisting/formwork sangatlah sedikit. Karena itu wajar apabila masalah bekisting/formwork ini terutama mengenai hal waktu pembongkaran bekisting dalam sebuah proyek seperti gedung  selalu menjadi diskusi yang ‘menarik’. Ya..,Saya katakan saja  ‘menarik’ karena kesepahaman antara waktu yang tepat atau waktu diperbolehkannya untuk membongkar bekisting akan berbeda antara satu proyek dengan proyek lainnya.
Dalam postingan ini,para pembaca tidak akan menemukan teori teori tentang faktor faktor yang menentukan terhadap waktu yang tepat kapan saat bongkaran bekisting bisa dilaksanakan tanpa kerusakan permanen pada slabs seperti akibat lendutan yang melampaui ijinnya dan crack yang berlebihan. Biarlah itu menjadi tugas dari para ahlinya seperti Tim Penyusunan Standardisasi di negeri ini.Karena saya sendiri boleh dikatakan seorang praktisi yang pernah berkecimpung di dunia bekisting/formwork, maka disini saya hanya membuat sebuah prediksi dan simulasi susunan penyediaan bekisting dan perancah sehingga distribusi pembebanan pada level tertentu pada lantai gedung bisa menjadi sebuah gambaran dalam pendistribusian beban akibat pekerjaan bongkaran bekisting dan reshoring dengan acuan dari ACI 318 Chapter 6 di bawah ini: Sebelum mulai dengan pembahasan, saya mohon maaf jika pembahasannya sangat singkat, hal ini harap dimaklumi mengingat rumitnya dan banyaknya materi pembahasan yang tidak mungkin dituangkan dalam postingan ini, karena untuk menjadi project planner di dunia bekisting/formwork pun memerlukan waktu pembelajaran yang tidak singkat.
Oke..mari kita mulai ..,
1.Data Proyek
Lantai Typikal


Tebal Slab                                 =15 cm
Mutu Beton                               = 35 MPa
Mutu Besi Tulangan                    = 400 MPa
Siklus Cor                                  = 7 hari
2. Penentuan Rencana/Prediksi bongkaran Bekisting Slab
Setelah mempunyai data seperti di atas, selanjutnya kita akan membuat Rencana/prediksi Bongkaran Bekisting slab,misalkan seperti berikut ini:
Bekisting lantai       = 5 hari setelah cor dan di shoring dengan Pipe Support
Bekisting Balok      = 8 hari setelah cor dan di shoring dengan Pipe Support
Pipe Support          =21 hari setelah cor
3. Simulasi Siklus Cor Lantai
Jika rencana bongkaran bekisting sudah ditentukan, buatlah simulasi siklus cor lantai seperti ini:
Dari gambar diatas, sekarang kita dapat mengetahui bentuk susunan bekisting,scaffolding dan shoring pada proyek yang akan dibangun tersebut.Kemudian untuk menganalisa bongkaran tiap lantai,pembebanan yang terjadi telah dapat di ketahui, seperti misalnya kondisi pada lantai 2 dan lantai lainnya seperti B2,B1 dan seterusnya, dimana ketika akan dilakukan pekerjaan bongkaran bekisting ternyata dilantai atasnya telah terjadi kegiatan pemasangan besi tulangan slab.  
4. Pola Pembebanan untuk bongkaran Bekisting/Formwork
Selanjutnya mari kita tentukan pembebanan pada lantai yang bekisting nya akan dibongkar . Dalam menentukan besarnya beban yang bekerja, tiap Negara tentu mempunyai peraturan pembebanan masing masing seperti pernah di muat pada posting Bekisting Horisontal.
Sekarang kita Tinjau lantai B2:

Dari gambar di atas maka dapat di ketahui Pola pembebanan di Lt B2 adalah sebagai berikut:
1. Berat sendiri Slab beton         = 0,15 m x 2400 kg/m3 = 360 kg/m2
2. Beban Hidup Lt B2                 = 150 kg/m2
3. Beban Formwork Lt B3                   = 75 kg/m2 (tergantung jenis bekisting)
4. Beban Besi Tulangan Lt B3     = 30 kg/m2
5. Beban Hidup Lt B3                 = 150 kg/m2
Hufffh..rehat sejenak he..he..ternyata sudah panjang tulisannya..Oke, kita
5. Analisis Slab akibat Beban pada point 4
Dari data pembebanan pada point 4, selanjutnya kita bisa mencari Momen Maksimum dan Lendutan maksimum yang terjadi akibat beban beban tersebut. Caranya silahkan dengan kebiasaan masing-masing. Jangan lupa,mutu beton sesuai dengan umur beton slab yang ditinjau seperti dalam contoh kita ini adalah umur beton 5 hari.
Karena prediksi bongkaran bekisting/formwork ini dibuat sebelum proyek pembangunan gedung belum dimulai, maka data laboratorium pengujian mutu betonnya tentu belum ada. Akan tetapi hal ini tidakmenjadi kendala karena kita bisa memasukan nilai fc beton sesuai dengan pengalaman proyek yang pernah kita laksanakan ..lihat hubungan hasil tes uji tekan beton..yang nantinya kita sesuaikan kembali pada saat proyek tersebut telah berjalan.
Langkah selanjutnya adalah menghitung Momen Resistance (MR) penampang slab tebal 15 cm tersebut, kemudian bandingkan dengan nilai Momen Maksimum tadi. Jika hasilnya MR > Mmax…maka slab tersebut pada usia 5 hari sudah boleh di bongkar.
Kemudian Modulus Elastisitas beton bisa di hitung dengan formula: E = 4700 (f'c^0,5 ), dimana f’c dalam satuan MPa. Ini diperlukan untuk menghitung jumlah pipe support pada area slab yang di bongkar bekistingnya.
6. Metode Bongkaran Bekisting/Formwork
Mengingat waktu bongkaran yang relative singkat, dalam hal ini yang dimaksud dengan ‘relative singkat’ yaitu usia beton diatas 3 hari, Tentunya akan mempengaruhi kualitas dari beton tersebut. Crack akibat lendutan yang melampaui ijinnya serta akibat pembongkaran bekisting/formwork yang tidak memenuhi aturan akan sangat merugikan.
Untuk itu, harus ada prosedur pembongkaran bekisting/formwork yang baik. Pembongkaran bekisting/formwork harus dilakukan dengan hati-hati dan diawasi secara ketat. Minimal Pembongkaran bekisting lantai sistim slab dan beam dilakukan dengan cara sebagai berikut:
-         Bongkaran Bekisting dimulai dari yang termudah, yaitu pada pertemuan panel/plywood slab dengan bagian sideform balok.
-         Bongkaran dilakukan per panel atau per lembar plywood dan langsung di shoring misal dengan pipe support( mengenai shoring, semoga ada kesempatan untuk membahasnya pada kesempatan lain )
-         Setelah area slab yang dimaksud telah selesai di shoring, lakukan pengamatan secara rutin pada pipe support. Jika pipe support melengkung secara ekstrim, artinya perlu ada penambahan shoring/pipe support.
-     Dengan adanya pembongkaran bekisting/formwork, tentunya proses kehilangan air pada penampang beton akibat terjadinya penguapan akan semakin besar. Untuk itu perlu adanya pemeliharaan beton pasca bongkaran bekisting setidaknya 5 hari sesudahnya.




READ MORE

Saturday, August 27, 2011

Minyak Atsiri sebagai Campuran Umpan Pancing Ikan

Kali ini saya membuat judul postingan yang boleh di bilang agak aneh.Meski nantinya blog ini terkesan ‘campursari’,tapi menurut saya tidak ada salahnya untuk membuat semacam artikel resep/tips berdasarkan cerita pengalaman pribadi.
Pada awalnya, ada seorang bapak yang rutin membeli minyak nilam ke pabrik penyulingan minyak nilam yang saya kelola di kota garut.Secara rutin Dia membeli minyak nilam dengan volume 1 Kg tiap 2 minggu sekali.Bahkan kesininya dia mulai pesan minyak atsiri jenis lain seperti minyak Sereh wangi (Citronella oil),minyak Sirih (Piper Bettle oil)dan minyak Akar wangi (vertiver oil).
Singkat cerita, karena seringnya dia membeli minyak, saya jadi tahu kalau ternyata bapak tersebut ternyata seorang penjual alat pancing dan umpan ikan.Dia cerita bahwa minyak atsiri yang dia beli itu kemudian di jual dengan kemasan botol ukuran 5 – 10 cc. Menurutnya, pembeli minyak dalam kemasan botol tadi banyak dipesan oleh pemancing ikan dari daerah sekitar garut ,bahkan ada juga yang pesan dari daerah bandung serta sukabumi.Mereka menambahkan minyak tersebut pada umpan racikan mereka dengan dosis tertentu.
Sebagai orang yang awam di dunia pemancingan ikan, aku sendiri tidak tahu apa betul mencampurkan minyak atsiri tertentu dengan adonan umpan ikan bisa membuat umpan ikan tersebut menjadi jitu?..Penasaran dengan hal ini, pada suatu kesempatan ketika saya berkunjung ke rumah saudara di sukabumi, saya membawa minyak nilam untuk di berikan kepada saudaraku yang hobi mancing ikan di kolam pemancingan. Beberapa waktu kemudian ternyata saudaraku itu minta minyak lagi karena katanya setelah memakai minyak nilam tersebut dia menjadi sering dapat ikan meski tergantung jenis airnya (wah..aku gak ngerti deh dengan pengaruh air kolam ini juga).Yang saya tahu bahwa minyak nilam bersifat fiksatif yaitu mengikat wangi-wangian sehingga wangi-wangian seperti wangi perfume akan lebih lama menempel.Itulah mengapa minyak nilam digunakan sebagai bahan campuran parfume.
Akhir kata, mengenai resep umpan ikan ini saya serahkan kepada para pemancing mania......
READ MORE

Thursday, August 25, 2011

Minyak Atsiri : Teknologi Budidaya Atsiri

Melengkapi postingan Minyak Atsiri:Pendahuluan,Pada era globalisasi saat ini, dituntut kemampuan untuk menghasilkan produk yang mampu bersaing. Teknologi yang efisien dan ramah lingkungan sangat diperlukan. Oleh sebab itu program penelitian lebih diarahkan kepada upaya mendapatkan varietas unggul dengan produktivitas tinggi yang tahan penyakit dan teknologi budidaya yang berbasis ekologi ramah lingkungan.
1. Kesesuaian Lingkungan
Melalui studi kesesuaian lingkungan, Balai Penelitian Tanaman obat dan aromatik (Balitro) telah memetakan beberapa komoditas seperti nilam, cengkeh, pala,ksyu manis,kapolaga dan sebagainya yang menguraikan wilayah wilayah yang sesuai untuk pengembangan suatu tanaman. Pemetaan diperlukan karena salah satu sebab rendahnya produktivitas tanaman adalah pengembangannya yang tidak di lokasi yang sesuai dengan persyaratan tumbuh. Peta kesesuaian yang dan iklim yang telah dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menentukan teknologi yang diperlukan mulai dari bahan tanam, kebutuhan pupuk, pola tanam hingga panen dalam suatu wilayah.
Tabel Persyaratan Tumbuh tanaman Atsiri:
2. Tindakan Agronomis
Tindakan agronomis diperlukan atas dasar evaluasi lahan. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian adalah kondisi kesuburan tanah baik sifat fisik, kimia dan biologi serta iklim. Sifat fisik terutama drainase dan tekstur tanah.Untuk lokasi yang tergenang dan tekstur liat dibutuhkan pembuatan saluran air (drainese). Tanah dengan kandungan N,P dan K yang rendah perlu pemupukan terutama pupuk kandang. Sementara tanah yang asam perlu pengapuran.
Pengembangan pola tanam campuran dan sistim rotasi atau campuran berpeluang untuk mereduksi populasi pathogen dalam tanah.Rotasi dapat memutuskan siklus hidup pathogen, meningkatkan populasi agen pengendali hayati dan tanah dapat bersifat suppressive terhadap patoge.
Tindakan konservasi seperti penggunaan mulsa dan pengairan diperlukan terutama untuk daerah yang beriklim kering. Pengendalian gulma diperlukan pada stadia awal pertumbuhan. Pengendalian gulma diperlukan untuk menghindari kemungkinan adanya sumber atau inang penyakit. Khusus untuk tanaman atsiri semusim, diperlukan teknik pergiliran tanaman/rotasi dengan tanaman lain sehingga dapat memutus siklus OPT (organisme pengganggu tanaman).Penggunaan tanaman yang bersifat repellent (pengusir serangga) seperti serai wangi terbukti efektif untuk menekan serangan OPT pada tanaman perkebunan.
3.Penggunaan bahan organik
Bahan organik merupakan komponen penting dalam budidaya tanaman karena memperbaiki sifat biologi, kimia dan fisik tanah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang sekam,limbah daun cengkeh,kotoran sapi dan kotoran kambing merupakan bahan organik yang dapat digunakan dalam budidaya tanaman atsiri. Begitu pula dengan limbah sisa hasil penyulingan tanaman atsiri seperti limbah nilam dan serai wangi, setelah diolah menjadi kompos.
Untuk menentukan berapa pupuk organik yang diperlukan sebaiknya tanah di analisa terlebih dahulu.Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi tidak perlu diberikan pupuk kandang dengan dosis tinggi. Pada tanaman yang dipanen batang dan daun seperti nilam, umumnya hara yang terangkut cukup tinggi sehingga dosis pupuk organik yang diberikan dalam sistim pertanian organik relatif tinggi yaitu antara 10 – 20 ton/Ha.
4.Agen Pengendali Hayati dan Pestisida Hayati
Salah satu faktor pembatas produksi dalam bidang pertanian adalah hama tanaman.Beberapa jenis pestisida nabati cukup efektif terhadap beberapa jenis hama, diantaranya mimba, biji bengkuang,akar tuba,abu serai dapur,kayu manis,minyak atsiri selasih dan brotowali (Kardinan, 2009) serta pestisida nabati berbahan aktif minyak cengkeh, kayu manis dan serai wangi (Djazuli dan Sukamto,2008).
Selain pestisida nabati,penggunaan agensia hayati (mikroba)yang bersifat antagonis terhadap patogen penyebab penyakit perlu menjadi perhatian. Agensia pengendali hayati adalah grup mikroorganisme yang digunakan untuk pengendalian penyakit tanaman secara biologi(Meisak,2010).
Secara keseluruhan,pada teknologi budidaya yang ramah lingkungan, aspek lingkungan dan kesehatan menjadi faktor utama. Untukmendapatkan produksi dan mutu atsiri yang tinggi,teknologi mulai dari perbanyakan bahan tanaman hingga pemanenan harus sesuai SOP (Standard Operational Procedure) dan bertitik tolakkepada kondisi lahan, seperti pemilihan lokasi yang sesuai,teknologi pemupukan dengan pupuk organik, penanaman sesuai anjuran seperti bibit yang sehat dan varietas unggul,pemeliharaan serta panen tepat waktu dan tepat umur.
READ MORE

Sunday, August 21, 2011

Minyak Atsiri :Pendahuluan



Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil minyak atsiri dunia yang cukup berperan hingga saat ini. Tanaman yang menghasilkan minyak atsiri meliputi sekitar 200 species (Ketaren,1985) dimana 40 species diantaranya terdapat di Indonesia (Rusli dan Hobir,1990). Tanaman penghasil minyak atsiri terdiri dari tanaman berupa pohon seperti kenanga, pala, cengkeh, kayu manis,masoi, cendana, kayu putih dan lain lain, sedangkan yang berupa perdu adalah nilam, serehwangi, akar wangi,kapolaga,kemukus, jahe, ketumbar, mawar dan melati. 
Jenis minyak atsiri yang telah diproduksi dan beredar di pasar dunia mencapai 70 – 80 macam, 15 macam diantaranya berasal dari Indonesia (NAFED, 1993). Minyak atsiri/Essence Oil diperoleh dari tanaman dengan cara penyulingan uap dari daun, batang, kayu atau kulit batang, bunga dan biji tanaman.Minyak atsiri ini digunakan dalam industri parfum, kosmetik, makanan, minuman dan obat-obatan.
Sebagai penghasil minyak atsiri yang cukup besar di dunia, Indonesia harus mempertahankan keberadaannya dan mengikuti pola perkembangan kebutuhan hidup manusia umumnya.Khususnya di era globalisasi yang mana kebutuhan akan pola hidup yang sehat merupakan suatu keharusan.
Adanya peningkatan jumlah penduduk menjadikan kebutuhan akan sandang, papan dan pangan semakin meningkat pula. Hal ini menyebabkan penggunaan lahan menjadi semakin tidak terkendali. Lahan terancam rusak dan tidak subur lagi yang pada akhirnya diperlukan teknologi yang mampu memecahkan masalah tersebut. Penggunaan bahan kimia yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman ternyata mengakibatkan pola hidup yang tidak sehat.
Adanya pengaruh buruk penggunaan bahan kimia terhadap lingkungan dan manusia mendorong upaya untuk melakukan penyelamatan agar kondisi buruk tidak terus berlanjut, yaitu melalui penerapan teknologi konservasi tanah dan penanaman tanaman dengan sistim organik yang pada prinsipnya merupakan teknologi budidaya yang ramah lingkungan.
Konservasi tanah merupakan salah satu bagian penting dari budidaya pertanian yang sering terabaikan. Padahal tanpa tindakan konservasi tanah, produktivitas lahan yang tinggi dan usaha di bidang pertanian tidak terjamin akan berlangsung secara berkelanjutan. saat ini tindakan konservasi yang lebih diutamakan lebih diarahkan kepada lereng lereng perbukitan.
Kegiatan industri minyak atsiri dapat berperan di sini, dimana dengan melakukan penanaman tanaman minyak atsiri di lereng lereng tersebut dapat mencegah bencana longsor.Beberapa teknik konservasi yang dapat diterapkan untuk atsiri adalah dengan sistim pola tanam, yaitu pengolahan tanah dengan sistim guludan/penterasan dan pembuatan saluran drainase.
Selain konservasi lahan, masyarakat juga telah memahami pentingnya arti kesehatan yang senantiasa menghendaki produk pertanian yang berkualitas seperti pertanian organik. Pertanian organik adalah cara bertani yang mengandalkan bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia sintetis seperti pupuk dan pestisida serta benih hasil rekayasa genetika. Hal ini seharusnya dapat di terapkan dengan baik mengingat nenek moyang kita telah menerapkannya secara temurun yang merupakan kearifan local atau pengetahuan asli masyarakat seperti halnya penggunaan akar tuba untuk menangkap ikan dan mengendalikan hama, air tembakau untuk membunuh lintah, daun suren untuk menghalau hama walang sangit dan lainnya. Kearifan local ini mulai menghilang seiring masuknya bahan kimia pestisida ke Indonesia.
Bersambung…..
Sumber: Konferensi Nasional Minyak Atsiri Oktober 2010 di Bandung,Rosihan Rosman,O Trisilawati, M Djazuli (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik)
READ MORE

Sunday, August 7, 2011

Bekisting Horisontal:Gambar Metode Kerja Multiplex

Melanjutkan materi sebelumnya yaitu bekisting horisontal,Hal paling mendasar dalam pemasangan bekisting adalah bagaimana cara memasang dan menyusun scaffolding & bekisting dengan baik, sehingga syarat kekuatan,stabilitas serta ekonomis bisa tercapai.Usahakan sebelum menghitung kebutuhan material bekisting, setelah melalui tahapan perhitungan kekuatan dari masing-masing material bekisting (plywood,secondary timber/balok pembagi,main beam/timber serta scaffolding),kita plotkan terlebih dahulu  gambar susunan bekisting pada software gambar yang memiliki keakuratan tinggi seperti Autocad,sehingga kebutuhan material penyusun bekisting seperti bekisting horisontal yang mempunyai volume besar pada sebuah proyek nantinya dapat diestimasi dengan baik. Kemudian buatkan sebuah konfigurasi susunan scaffolding dan bekisting berdasarkan data spesifikasi material (pihak rental atau subkon pasti memilikinya).Selain  untuk estimasi, hal ini juga untuk menghindarkan kesulitan pemasangan dilapangan.
Berikut ini gambar dari metode pemasangan bekisting balok dan lantai  (maaf tidak terlalu detail):






Perlu diperhatikan bahwa konfigurasi main beam arah panjang Scaffolding 180 cm (girder GT-24) seperti pada gambar di atas adalah untuk ketebalan slab sampai 30 cm.Artinya untuk ketebalan lantai yang lebih dari 30 cm seperti Drop Panel yang umumnya mempunyai ketebalan minimal 50 cm maka jarak kaki scaffolding harus dipendekan lagi menjadi 90 cm, atau tergantung kepada hasil perhitungan kekuatan main beam (bisa girder atau balok kayu 8/15) serta kapasitas dari scaffoldingnya.Untuk dimensi Balok, saya belum bisa menampilkan batasannya, mengingat kompleknya data balok yang ukuran lebar x tingginya sangat beragam.
Sekian dahulu postingan kali ini, semoga bermanfaat.    


READ MORE

Wednesday, July 20, 2011

Proyek Bekisting BPW

Terlalu indah untuk dilupakan....,hehe..mirip bait lagunya Koes Plus....malam ini aku ingin mengingat kembali akan andilku dalam berbagai proyek di bagian bekisting, meski andilku ini boleh disebut sangat kecil, akan tetapi bagiku ini sangatlah berarti dan membanggakan.
Bersama PT.Beton perkasa Wijaksana (BPW) salah satu  subkon bekisting di Indonesia, dalam rentang waktu 3 tahun (2005-2008) aku mempunyai kesempatan terlibat dalam berbagai proyek, yang mana dalam istilah BPW saya duduk di bagian "Statik", atau yang menghitung kekuatan bekisting dari mulai perhitungan disain awal sampai perhitungan untuk bongkaran bekisting.
Untuk itu, dalam postingan kali ini, sambil menunggu penyusunan materi postingan bekisting horisontal selanjutnya, aku menampilkan beberapa foto dari proyek yang waktu itu pernah dikerjakan bersama BPW, sebagai tanda silaturahmi, dengan harapan teman teman Engineering di BPW menjadi lebih bersemangat lagi untuk berkarya...ciyeee.., atau minimal bagi aku adalah bahwa ini merupakan sebuah cerita bagi anak anakku, sehingga kelak jika anak anaku telah besar,aku seolah berkata :"Rayhan,Khalif,Faqar&Fikar, serta Khansa...Lihatlah Jembatan dan bangunan yang masih menjulang itu,..ayahmu ketika itu telah ikut membangunnya...,".
 Capital Residences SCBD
Capital Residences SCBD
The Pacific Place
Pylon Simpang Susun Km21 Bekasi
Ground Anchor Simpang Susun Km21 Bekasi
Pier Head BSD Tangerang
TRUSS pada Jembatan KA Tanah Abang
READ MORE

Thursday, July 14, 2011

Bekisting Horisontal

I.       UMUM
Formwork atau Bekisting merupakan sarana struktur beton untuk mencetak beton  baik ukuran atau bentuknya sesuai dengan yang direncanakan, sehingga bekisting harus mampu berfungsi sebagai struktur sementara yang bisa memikul berat sendiri, beton basah, beban hidup dan peralatan kerja.
Persyaratan Umum
Dalam mendisain suatu struktur, baik struktur permanen maupun sementara seperti bekisting setidaknya ada 3 persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:
  1. Syarat Kekuatan, yaitu bagaimana material bekisting seperti balok kayu tidak patah ketika menerima beban yang bekerja
  2. Syarat Kekakuan, yaitu bagaimana meterial bekisting tidak mengalami perubahan bentuk / deformasi yang berarti, sehingga tidak membuat struktur sia-sia.
  3. Syarat Stabilitas, yang berarti bahwa balok bekisting dan tiang/perancah tidak runtuh tiba-tiba akibat gaya yang bekerja.
Selain itu, perencanaan dan disain bekisting harus memenuhi aspek bisnis dan teknologi sehingga pertimbangan –pertimbangan di bawah ini setidaknya harus terpenuhi:
    1. Ekonomis
    2. Kemudahan dalam pemasangan dan bongkar
    3. Tidak bocor
Untuk memenuhi persyaratan Umum yaitu Kekuatan, kekakuan dan stabilitas di atas maka seperti pada design struktur umumnya, peranan ilmu statika dalam perencanaan bekisting  sangatlah penting. 
II. PEMODELAN STRUKTUR
Sebelum suatu struktur bisa di design atupun di periksa kekuatannya, perlu dilakukan pemodelan struktur baik struktur gedung ataupun bekisting sehingga menjadi sebuah model Statika sehingga mempermudah perhitungan Gaya-gaya yang terjadi pada struktur tersebut.  
Contoh: Menentukan pemodelan statik untuk Plywood pada bekisting lantai tipe Multiflex
I.       MATERIAL BEKISTING HORISONTAL
Material Bekisting
-          Plywood
-          Kayu
-          Baja Profil
-          Pelat Baja, dll
1.1  Plywood
Adanya tuntutan kualitas serta pertimbangan bahwa biaya pengerjaan bekisting dari papan kayu cukup mahal, maka digunakan plywood sebagai pelapis bekisting kolom, balok, dinding dan terutama bekisting pelat.
1.2  Kayu
Dalam dunia konstruksi, kayu merupakan bahan bekisting yang banyak digunakan, khususnya pada bekisting Konvensional dimana keseluruhan bahan bekisting dibuat dari kayu. Begitu juga dengan bekisting semi konvensional, dimana material kayu masih banyak digunakan meski penggunaan kayu papan telah digantikan oleh Plywood.
Untuk menghasilkan hasil beton yang sesuai dengan yang direncanakan, maka diperlukan acuan mengenai jenis kuat kayu, sehingga syarat kekuatan dan kekakuan kayu masih dalam batas-batas yang diijinkan.
Berikut adalah Kelas Kuat Kayu menurut PKKI NI-5 1961:
DAFTAR I
Tegangan Ijin Kayu Mutu A
   DAFTAR II
Modulus Elastisitas Kayu  sejajar serat
1.1  Plywood
Adanya tuntutan kualitas serta pertimbangan bahwa biaya pengerjaan bekisting dari papan kayu cukup mahal, maka digunakan plywood sebagai pelapis bekisting kolom, balok, dinding dan terutama bekisting pelat.
1.2  Baja Profil
Pada bekisting semi konvensional dan bekisting sistem bahan baja profil dipakai sebagai bahan bekisting terutama sebagai support atau sabuk pada bekisting kolom dan dinding. Penggunaan material ini terutama digunakan pada pekerjaan dengan pemakaian ulangnya banyak sekali.
Selain Untuk menghasilkan hasil beton yang sesuai dengan yang direncanakan, maka diperlukan acuan mengenai kekuatan material dari bahan Steel, sehingga syarat kekuatan dan kekakuan steel masih dalam batas-batas yang diijinkan serta dengan pertimbangan faktor ekonomis sehingga perlunya perencanaan steel dengan metode elastis.
1.3  Pelat Baja
Bekisting pelat baja biasanya terdiri dari lembaran atau panel-panel baja pelat tipis yang dibuat sesuai standar atau pesanan khusus. Pembuatannya pada umumnya distel dipabrik.
II.    PEMBEBANAN PADA BEKISTING HORISONTAL
Dalam merencanakan bekisting, perhitungan yang digunakan adalah perhitungan gaya atau statika seperti pada Mekanika Teknik. Gaya-gaya yang diperhitungkan adalah gaya vertikal dan gaya horisontal. Analisis pada bahan bekisting seperti kekuatan terhadap Tegangan dan gaya geser akibat beban vertikal atau horisontal dilakukan berdasarkan peraturan yang berlaku. Untuk bekisting sistem seperti PERI yang telah mempunyai standar tertentu biasanya dititik beratkan pada lendutan yang terjadi. Lendutan yang direkomendasikan oleh ACI adalah sebesar L/360.
Gaya vertikal yang harus diperhitungkan dalam perencanaan bekisting adalah:
  1. Beban Mati, antara lain        : Berat sendiri Beton, berat bekisting, baja tulangan dan Tumpukan sementara material
  2. Beban Hidup, antara lain      : Tenaga Kerja + alatBeban-beban tersebut harus mampu ditahan oleh bekisting sesuai dengan batas yang diijinkan dan dengan mempertimbangkan pula faktor keamanan. Di bawah ini adalah rekomendasi dari beberapa negara maju dalam hal besarnya beban vertikal.
Rekomendasi dari ACI Committe 347 :
  1. Berat sendiri beton termasuk tulangan       = 150 lb per cu.ft  atau 2400 kg/m3
  2. Berat Bekisting                                      = 10 – 15 Psf  atau   50 – 75 kg/m2
  3. Beban Hidup minimum                              = 250 kg/m2
Rekomendasi dari Australia :
  1. Berat sendiri beton termasuk tulangan       = 2400 kg/m3
  2. Berat Bekisting                                      = 30 – 75 kg/m2
  3. Beban Hidup minimum                              = 150 - 250 kg/m2
 VI.        TIPE BEKISTING HORISONTAL
Tipe atau jenis dari bekisting horisontal seperti bekisting untuk Balok dan Slab/lantai terdiri dari berbagai macam, tergantung kepada ciri khas dari subkon bekisting. Umumnya tipe bekisting untuk lantai yang beredar di Indonesia adalah sebagai berikut:
-          Multiflex, yaitu rangkaian lembaran plywood atau pelat besi yang di topang oleh balok sekunder serta balok primer yang di gelar di atas mainframe seperti scaffolding atau PD -8. Bekisting sistem Multiflex dirangkai pada tiap lantai yang akan di cor dan dibongkar pada waktu akan terjadi pemindahan bekisting ke lantai berikutnya.
-          Table Form, yaitu rangkaian lembaran plywood atau pelat besi yang di topang oleh balok sekunder serta balok primer yang di gelar di atas mainframe seperti scaffolding atau PD -8. Bedanya dengan sistem Multiflex adalah pada waktu akan terjadi pemindahan bekisting, sistem ini cukup dengan menurunkan posisi bekisting dengan cara menurunkan posisi jack di kaki mainframe, sehingga rangkaian bekisting tidak perlu dibongkar dan dapat di dorong untuk kemudian di angkat oleh Tower Crane ke lantai berikutnya. Table Foerm cocok jika digunakan pada lantai type Flat Slab (Lantai tanpa Balok).
-          Horry Beam, yaitu berupa truss beam yang bisa di stel panjangnya untuk di letakan pada sideform bekisting balok dengan jarak tertentu untuk kemudian lembaran plywood tinggal di gelar/dipasang di atasnya sehingga Mainframe tidak diperlukan lagi. Dengan sistem ini, beban lantai disalurkan Horry ke Bekisting Balok, sehingga jarak antar kaki dari mainframe balok akan lebih rapat jika dibandingkan dengan dua tipe bekisting di atas .
 Bersambung……………
READ MORE

Tuesday, July 5, 2011

Semua Tentang Semen

Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau Buton
Benar atau tidak, cerita, legenda tadi menunjukkan dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana.
Baru pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar tahun 1700-an M), John Smeaton - insinyur asal Inggris - menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Ironisnya, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan cikal bakal semen ini. Adalah Joseph Aspdin, juga insinyur berkebangsaan Inggris, pada 1824 mengurus hak paten ramuan yang kemudian dia sebut semen portland. Dinamai begitu karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak dipajang di toko-toko bangunan.
Sebenarnya, adonan Aspdin tak beda jauh dengan Smeaton. Dia tetap mengandalkan dua bahan utama, batu kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan tanah lempung yang banyak mengandung silika (sejenis mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina) serta oksida besi. Bahan-bahan itu kemudian dihaluskan dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai terbentuk campuran baru.
Selama proses pemanasan, terbentuklah campuran padat yang mengandung zat besi. Nah, agar tak mengeras seperti batu, ramuan diberi bubuk gips dan dihaluskan hingga berbentuk partikel-partikel kecil mirip bedak.
Lazimnya, untuk mencapai kekuatan tertentu, semen portland berkolaborasi dengan bahan lain. Jika bertemu air (minus bahan-bahan lain), misalnya, memunculkan reaksi kimia yang sanggup mengubah ramuan jadi sekeras batu. Jika ditambah pasir, terciptalah perekat tembok nan kokoh. Namun untuk membuat pondasi bangunan, campuran tadi biasanya masih ditambah dengan bongkahan batu atau kerikil, biasa disebut concrete atau beton.
Beton bisa disebut sebagai mahakarya semen yang tiada duanya di dunia. Nama asingnya, concrete - dicomot dari gabungan prefiks bahasa Latin com, yang artinya bersama-sama, dan crescere (tumbuh). Maksudnya kira-kira, kekuatan yang tumbuh karena adanya campuran zat tertentu. Dewasa ini, nyaris tak ada gedung pencakar langit berdiri tanpa bantuan beton.
Meski bahan bakunya sama, "dosis" semen sebenarnya bisa disesuaikan dengan beragam kebutuhan. Misalnya, jika kadar aluminanya diperbanyak, kolaborasi dengan bahan bangunan lainnya bisa menghasilkan bahan tahan api. Ini karena sifat alumina yang tahan terhadap suhu tinggi. Ada juga semen yang cocok buat mengecor karena campurannya bisa mengisi pori-pori bagian yang hendak diperkuat.
sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Semen#Sejarah

Bagi yang memerlukan standard dari jenis jenis semen silahkan berkunjung ke http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni/6967 atau bisa langsung ambil di sini. Berikut adalah SNI untuk semen :
1.SNI 15-2049-2004 Semen Portland
2.SNI 15-3500-2004 Semen Portland Campur
3.SNI 15-3758-2004 Semen Masonry
4.SNI 15-7064-2004 Semen Portland Komposit
5.SNI 15-0129-2004 Semen Portland Putih
6.SNI 15-0302-2004 Semen Portland Pozolan
Untuk lebih lengkapnya lagi tentang semen, berikut ini adalah animasi proses pembuatan semen, saya sarankan anda untuk mengeksplore site tersebut karena disitu semen secara lengkap di kupas dengan tampilan menarik dan jelas.
READ MORE

Wednesday, June 29, 2011

Analisa Harga Satuan untuk Gedung (Versi terbaru)

Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebuah proyek tidak terlepas dari Analisa Harga Satuan. Analisa Harga Satuan tersebut di buat berdasarkan hasil rekaman data sekunder yang diperoleh dari narasumber seperti BUMN, kontraktor dan data sebelumnya yaitu BOW serta Data Primer yang dilakukan Badan Standardisasi Nasional dengan cara penelitian langsung di lapangan sebagai cross check terhadap data sekunder, yang menghasilkan koefisien untuk Pekerja dan  Material persatuan Luasan ataupun volume untuk masing masing jenis pekerjaan.
Secara berkala, BSN menyusun SNI Analisa Harga Satuan Pekerjaan sebagai acuan untuk membuat RAB sebagai kontrol biaya khususnya bagi Konsultan  sebagai perencana dan kontraktor sebagai pelaksana proyek.
Berikut ini adalah Analisa Harga Satuan versi terbaru:
1.Analisa Pekerjaan Tanah SNI-2835-2008
2.Analisa Pekerjaan Pondasi SNI-2836-2008
3.Analisa Pekerjaan Besi SNI-7393-2008
4.Analisa Pekerjaan Beton SNI-7394-2008
5.Analisa Pekerjaan Dinding SNI-6897-2008
6.Analisa Pekerjaan Plesteran SNI-2837-2008
7.Analisa Pekerjaan Kayu SNI-3434-2008
8.Analisa Pekerjaan Plafond SNI-2839-2008
9.Analisa Pekerjaan Penutup Lantai dan Dinding SNI-7395-2008
Bagi yang membutuhkan SNI tersebut silahkan diunduh dengan syarat mengisi komen atau buku tamu karena “keberadaan” blog ini tergantung juga pada anda semua sebagai pengunjung yang ramah.
sumber:http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/
Terimakasih.
READ MORE

Tuesday, June 28, 2011

ALEXA RANK

 

Alexa....Alexa...,..hmm bingung juga mau nulis apa ya..? aku hanya mengerti bahwa alexa rank merupakan peringkat dari sebuah situs atau website.Yang jelas pagi ini ketika membuka blog aku via google, ternyata blog aku yang baru berusia 35 hari  dengan jumlah 13 postingan  telah mendapat ranking dari Alexa  dengan peringkat 18.891.763 (wow…besar amat ya…hehe).
Sebenarnya aku tidak terlalu mementingkan masalah peringkat alexa, apalagi blog fujiboga bukan sebuah blog pemasaran produk.Meskipun demikian, suatu hal yang wajar jika terselip rasa bangga karena bukan saja perjuangan sebuah website untuk duduk di peringkat atas Alexa sangat susah, untuk bisa "diakui" oleh Alexa saja katanya susah, sehingga wajarlah jika banyak blog yang membahas tip dan trik tentang hal ini.
Untuk itu pagi ini aku ingin aku ucapkan banyak terimakasih pada semua bloger yang telah memberikan tips dan trik blog, kepada pengunjung blog fujiboga (meski masih sepi dari komen…) terutama kepada follower fujiboga serta Alexa, tentunya.
Semoga hal ini merupakan penyemangat bagiku untuk bisa posting materi yang berbobot serta gaya penulisan yang semakin baik.
READ MORE

Tuesday, June 21, 2011

Tata cara Uji Sample Beton

Postingan kali ini tidak ada ringkasan atau penjelasan terhadap judul di atas, karena saya sendiri tidak begitu faham dengan prosedur dan tata cara mengenai pembetonan . Namun meskipun demikian, sebagai bahan acuan di proyek ataupun penambah wawasan kita mengenai beton, berikut ini adalah SNI terbaru tahun 2008 tentang beton :
1. Cara Uji Berat Isi, Volume dan Kadar Udara Beton, SNI-1973-2008  
2. Tata Cara Pengambilan Contoh Uji Beton Segar, SNI-2458-2008  
3. Cara Uji Slump Beton, SNI-1972-2008

File tersebut diambil dari

Semoga bermanfaat.
READ MORE

Hubungan Hasil Tes Uji Tekan Beton dengan Bongkaran Bekisting

Untuk mengetahui Mutu beton yang akan digunakan dalam sebuah proyek diantaranya adalah dengan melakukan :
  1. Uji Slump, untuk mengetahui kadar air atau keenceran adukan beton
  2. Uji Kuat Tekan, diuji dengan standar ASTM C39-86 dengan pemberian beban tekan incremental/bertahap pada silinder beton (diameter 150 mm, tinggi 300 mm) sampai hancur. umumnya dibuat 9 sample dimana 3 digunakan untuk test pada saat umur beton 7hari (misal kekuatan beton 70 % dari fc'), 3 pada saat umur beton 14 hari (misal kekuatan beton 85-90 % dari fc') dan sisanya untuk 28 hari (kekuatan beton 100 % dari fc')
Seperti diketahui, umumnya pekerjaan bekisting pada proyek sipil dengan volume beton yang besar biasanya dikerjakan oleh sub kontraktor atau bisa dengan sistem rental. Data hasil Uji tekan yang dikeluarkan oleh laboratorium seperti pada point 2 di atas tentunya sangat penting terutama bagi para engineer proyek, diantaranya untuk kegiatan bongkaran Bekisting  .
Berbicara tentang lamanya bongkaran bekisting tentunya akan menyangkut pada besaran biaya borongan bekisting atau harga rental alat bekisting disamping mutu dari hasil cor beton yang tetap harus baik dan terhindar dari crack atau retakan beton akibat bongkaran bekisting sebelum beton mencapai kekuatan maksimalnya.

Untuk menentukan berapa lama bekisting dapat di bongkar tanpa menimbulkan crack atau lendut pada balok atau lantai beton tentunya harus melalui prosedur ijin bongkar dari konsultan serta hasil analisa statik terhadap umur beton.

Waktu yang tepat untuk melakukan  Bongkaran bekisting tentunya tergantung pada bagian struktur beton dan kelas beton yang digunakan serta metode bongkaran yang digunakan. Contohnya Bongkaran pada kolom beton bisa dilakukan 12 jam setelah pengecoran, kemudian pada Lantai dengan sistem balok, bekisting slab beton boleh lebih dulu di bongkar pada umur beton minimal 6 hari dengan syarat langsung di shoring atau di tumpu oleh pipa support pada jarak tertentu, sementara balok nya di bongkar pada umur 10 hari. Kemudian Bagaimana dengan Lantai sistem Flat slab yang tidak ada baloknya karena diganti drop panel ?...wah…jadi terlalu panjang deh bahasannya……

Intinya semua itu perlu di lakukan analisa statik, dengan memasukan umur beton pada saat bongkaran akan dilakukan. Mohon maklum jika bahasannya terlalu melebar…maklum biasa membaca…jadi begitu menulis malah susah..hmmm


Dengan demikian, ada baiknya jika seorang engineer proyek khususnya engineer dari pihak subkon bekisting untuk membiasakan diri membuat dokumentasi data hasil uji tekan beton pada tiap proyek untuk memudahkan perhitungan bongkaran bekisting. Mengapa hal ini perlu?..karena harga kontrak bekisting tentunya berdasarkan jumlah penyediaan per lantai ,sementara perhitungan bongkaran bekisting tentunya berdasarkan kuat tekan beton yang diasumsikan karena betonnya belum ada…!!!. Jika harga penawaran yang diajukan adalah 2 Lantai susunan perancah + bekisting  dan 2 lantai pipe support ternyata pada pelaksanaannya malahan menjadi 3 Lantai susunan perancah + bekisting  dan 2 lantai pipe support bisa repot…alias rugi…

Untuk menghindari hal tersebut, minimal subkon bekisting menyertakan perhitungan statik bekisting dan bongkaran bekisting berdasarkan data hasil Uji Tekan Beton pada proyek-proyek sebelumnya sesuai kelas betonnya baik beton normal  ataupun beton dengan admixture.

Berikut ini adalah contoh sederhana Grafik Kuat Tekan Beton pada proyek Apartemen di kawasan SCBD  Sudirman Jakarta. Data tersebut adalah hasil uji tekan umur beton 7hari, 14 hari dan 28 hari. Dengan bantuan grafik ini minimal kita bisa mengasumsikan kuat tekan beton pada umur 5 hari,6 hari sesuai kebutuhan untuk menghitung bongkaran bekisting.


READ MORE

Sunday, June 12, 2011

PERHITUNGAN BEKISTING KOLOM

Melengkapi Postingan sebelumnya,yaitu pembebanan pada bekisting vertikal ,pada postingan kali ini saya mencoba membuat contoh perhitungan bekisting kolom.Karena saya hanya mempunyai brosur bekisting PERI, maka bekisting kolom yang di hitung adalah bekisting PERI.


Meskipun demikian, jika diterapkan pada bekisting kolom konvensional, urutan perhitungan tidak berbeda, yang berbeda hanyalah material propertiesnya saja.Dengan kata lain material propertiesnya tinggal diganti  sesuai jenis bahan yang digunakan.

Perlu diingatkan, bahwa perhitungan ini hanyalah sebagai penambah referensi saja, karena jika dihadapkan pada proyek yang sebenarnya, Bekisting PERI akan menyediakan perhitungan statik dan supervisinya.

Selamat membaca dan mendownload contoh perhitungan statiknya.
READ MORE

Sunday, June 5, 2011

Pembebanan pada Bekisting Vertikal

Perhitungan beban untuk bekisting vertikal seperti Dinding dan kolom dipengaruhi oleh berbagai faktor utama yaitu:

1. Kecepatan cor
2. Kelas Beton Segar, apakah K1, K2 atau K3
3. Tinggi jatuh beton ke bekisting vertikal

Kecepatan Cor

Sederhananya, yang dimaksud kecepatan cor di sini adalah berapa lama waktu cor bekisting vertikal dengan volume tertentu tercapai. Disini tentunya akan berbeda antara kecepatan cor dengan menggunakan concrete pump dan dengan menggunakan bucket,serta kecepatan cor yang diterima oleh bekisting kolom dengan bekisting dinding.


Kelas Beton Segar dan Tekanan Hidrostatis

Kelas beton yang akan di cor kan,mempengaruhi tinggi tekanan hidrostatiknya.semakin cair betonnya, maka akan semakin tinggi tekanan hidrostatiknya.



                           Tekanan Hidrostatik Air dan Beton segar

Tinggi Jatuh Cor

Tinggi jatuh Cor atau jarak nozzle dari bekisting memepengaruhi pembebanan terhadap bekisting.Semakin tinggi posisi nozzle atau selang pada bucket,maka akan mengakibatkan gaya kejut pada bekisting, untuk kolom ukuran 90 cm ke atas biasanya terpasang tie rod untuk menyalurkan tekanan beton segar. Jika tinggi cor terlalu tinggi dan jatuhan beton cair terkena pada tie rod, maka tie rod yang fungsinya sebagai batang tarik, akan bengkok bahkan bisa putus.

Contoh 1:

Menentukan kecepatan Cor pada kolom 70 x 70 cm, tinggi 4 meter.

Data:
     -   Cor menggunakan Bucket, misal dengan volume 0,5 m3
-         Asumsi waktu penuangan beton dari bucket ke bekisting adalah 5 menit.
-         Asumsi Jeda waktu antara pengisian bucket dan jangkauan TC ke bekisting kolom adalah 10 menit

Maka:

Volume Beton kolom = 0,7 m x 0,7 m x 4m = 1,96 m3
Jumlah Penuangan dari Bucket = 1,96 m3/0,5 m3 = 3,92 ≈ 4 kali
Lama Pengecoran = 5 menit cor pertama  + 10 menit jeda + 5 Menit cor ke dua + 10 Menit jeda + 5 Menit cor ke tiga + 10 Menit jeda + 5 menit cor ke empat = 50 menit atau 0,83 jam

Sehingga didapat Kecepatan cor untuk kolom 70 x 70, H= 4 meter adalah 4 m / 0,83 jam = 4,8 meter/jam

Pada saat awal pembangunan sebuah gedung, dimana jumlah lantai masih terjangkau oleh selang concrete pump, biasanya pengecoran langsung dari concrete pump. Tentunya kecepatan cor nya akan lebih tinggi dibandingkan dengan Bucket. Belum di tambah dengan beban kejut akibat daya dorong pompa.semakin tinggi lantai gedung, akan menambah tenaga dorong dari Pompa.Hal ini perlu di koordinasikan dengan pihak subkont beton, berapa kecepatan cor maksimum yang tercapai berdasarkan pengalaman cor di proyek. Menurut DIN 18218 kecepatan cor maksimum sebaiknya 7 meter/jam.

Contoh 2:

Menentukan kecepatan Cor pada Wall Tebal 25 cm, tinggi 4 meter.

Data:
-   Cor menggunakan Bucket, misal dengan volume 0,5 m3
-         Asumsi waktu penuangan beton dari bucket ke bekisting adalah 3 menit.
-         Asumsi Jeda waktu antara pengisian bucket dan jangkauan TC ke bekisting kolom adalah 5 menit
-         Panjang Bekisting yang dipersiapkan 10 meter



Maka:

Volume Beton Wall = 0,25 m x 10 m x 4m = 10 m3
Jumlah Penuangan dari Bucket = 10 m3/0,5 m3 = 20 kali
Lama Pengecoran = 3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3….+3 =
155 menit atau 2,6 jam

Sehingga didapat Kecepatan cor untuk wall adalah 4 m / 2,6 jam = 1,5 meter/jam. Jika menggunakan 2 TC, maka kecepatan cor nya adalah 3 meter/jam.

Angka kecepatan Cor pada contoh 1 dan contoh 2 di atas tinggal di plotkan ke tabel Fress Concrete Pressure. Pada figure 2 DIN 18218, untuk cor kolom dengan speed 4,8 meter/jam dan Kelas Beton K3 di dapat harga tekanan Beton sebesar 90 KN/m2 dengan tinggi hydrostatik = 3,5 meter.

Demikian Bahasan kali ini, sebagai acuan untuk mendisain bekisting Kolom dan Wall. Untuk mempermudah proses perhitungan pembebanan, sebenarnya bisa menggunakan Tabel Kecepatan Cor seperti DIN 18218, ACI, DMR dan Etingsausen . Dari Semua Tabel di atas Speed terendah adalah dari ACI dan Speed tertinggi adalah DIN 18218.

Sebagai bahan panduan, silahkan klik disini untuk mendownload Tabel Kecepatan Cor dan Tekanan Beton Segar berdasarkan DIN 18218.

Sebelum mendownload, silahkan isi komentarnya dengan baik. Mudah2an menjadi penyemangat untuk membuat posting materi selanjutnya .
READ MORE