Wednesday, July 20, 2011

Proyek Bekisting BPW

Terlalu indah untuk dilupakan....,hehe..mirip bait lagunya Koes Plus....malam ini aku ingin mengingat kembali akan andilku dalam berbagai proyek di bagian bekisting, meski andilku ini boleh disebut sangat kecil, akan tetapi bagiku ini sangatlah berarti dan membanggakan.
Bersama PT.Beton perkasa Wijaksana (BPW) salah satu  subkon bekisting di Indonesia, dalam rentang waktu 3 tahun (2005-2008) aku mempunyai kesempatan terlibat dalam berbagai proyek, yang mana dalam istilah BPW saya duduk di bagian "Statik", atau yang menghitung kekuatan bekisting dari mulai perhitungan disain awal sampai perhitungan untuk bongkaran bekisting.
Untuk itu, dalam postingan kali ini, sambil menunggu penyusunan materi postingan bekisting horisontal selanjutnya, aku menampilkan beberapa foto dari proyek yang waktu itu pernah dikerjakan bersama BPW, sebagai tanda silaturahmi, dengan harapan teman teman Engineering di BPW menjadi lebih bersemangat lagi untuk berkarya...ciyeee.., atau minimal bagi aku adalah bahwa ini merupakan sebuah cerita bagi anak anakku, sehingga kelak jika anak anaku telah besar,aku seolah berkata :"Rayhan,Khalif,Faqar&Fikar, serta Khansa...Lihatlah Jembatan dan bangunan yang masih menjulang itu,..ayahmu ketika itu telah ikut membangunnya...,".
 Capital Residences SCBD
Capital Residences SCBD
The Pacific Place
Pylon Simpang Susun Km21 Bekasi
Ground Anchor Simpang Susun Km21 Bekasi
Pier Head BSD Tangerang
TRUSS pada Jembatan KA Tanah Abang
READ MORE

Thursday, July 14, 2011

Bekisting Horisontal

I.       UMUM
Formwork atau Bekisting merupakan sarana struktur beton untuk mencetak beton  baik ukuran atau bentuknya sesuai dengan yang direncanakan, sehingga bekisting harus mampu berfungsi sebagai struktur sementara yang bisa memikul berat sendiri, beton basah, beban hidup dan peralatan kerja.
Persyaratan Umum
Dalam mendisain suatu struktur, baik struktur permanen maupun sementara seperti bekisting setidaknya ada 3 persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:
  1. Syarat Kekuatan, yaitu bagaimana material bekisting seperti balok kayu tidak patah ketika menerima beban yang bekerja
  2. Syarat Kekakuan, yaitu bagaimana meterial bekisting tidak mengalami perubahan bentuk / deformasi yang berarti, sehingga tidak membuat struktur sia-sia.
  3. Syarat Stabilitas, yang berarti bahwa balok bekisting dan tiang/perancah tidak runtuh tiba-tiba akibat gaya yang bekerja.
Selain itu, perencanaan dan disain bekisting harus memenuhi aspek bisnis dan teknologi sehingga pertimbangan –pertimbangan di bawah ini setidaknya harus terpenuhi:
    1. Ekonomis
    2. Kemudahan dalam pemasangan dan bongkar
    3. Tidak bocor
Untuk memenuhi persyaratan Umum yaitu Kekuatan, kekakuan dan stabilitas di atas maka seperti pada design struktur umumnya, peranan ilmu statika dalam perencanaan bekisting  sangatlah penting. 
II. PEMODELAN STRUKTUR
Sebelum suatu struktur bisa di design atupun di periksa kekuatannya, perlu dilakukan pemodelan struktur baik struktur gedung ataupun bekisting sehingga menjadi sebuah model Statika sehingga mempermudah perhitungan Gaya-gaya yang terjadi pada struktur tersebut.  
Contoh: Menentukan pemodelan statik untuk Plywood pada bekisting lantai tipe Multiflex
I.       MATERIAL BEKISTING HORISONTAL
Material Bekisting
-          Plywood
-          Kayu
-          Baja Profil
-          Pelat Baja, dll
1.1  Plywood
Adanya tuntutan kualitas serta pertimbangan bahwa biaya pengerjaan bekisting dari papan kayu cukup mahal, maka digunakan plywood sebagai pelapis bekisting kolom, balok, dinding dan terutama bekisting pelat.
1.2  Kayu
Dalam dunia konstruksi, kayu merupakan bahan bekisting yang banyak digunakan, khususnya pada bekisting Konvensional dimana keseluruhan bahan bekisting dibuat dari kayu. Begitu juga dengan bekisting semi konvensional, dimana material kayu masih banyak digunakan meski penggunaan kayu papan telah digantikan oleh Plywood.
Untuk menghasilkan hasil beton yang sesuai dengan yang direncanakan, maka diperlukan acuan mengenai jenis kuat kayu, sehingga syarat kekuatan dan kekakuan kayu masih dalam batas-batas yang diijinkan.
Berikut adalah Kelas Kuat Kayu menurut PKKI NI-5 1961:
DAFTAR I
Tegangan Ijin Kayu Mutu A
   DAFTAR II
Modulus Elastisitas Kayu  sejajar serat
1.1  Plywood
Adanya tuntutan kualitas serta pertimbangan bahwa biaya pengerjaan bekisting dari papan kayu cukup mahal, maka digunakan plywood sebagai pelapis bekisting kolom, balok, dinding dan terutama bekisting pelat.
1.2  Baja Profil
Pada bekisting semi konvensional dan bekisting sistem bahan baja profil dipakai sebagai bahan bekisting terutama sebagai support atau sabuk pada bekisting kolom dan dinding. Penggunaan material ini terutama digunakan pada pekerjaan dengan pemakaian ulangnya banyak sekali.
Selain Untuk menghasilkan hasil beton yang sesuai dengan yang direncanakan, maka diperlukan acuan mengenai kekuatan material dari bahan Steel, sehingga syarat kekuatan dan kekakuan steel masih dalam batas-batas yang diijinkan serta dengan pertimbangan faktor ekonomis sehingga perlunya perencanaan steel dengan metode elastis.
1.3  Pelat Baja
Bekisting pelat baja biasanya terdiri dari lembaran atau panel-panel baja pelat tipis yang dibuat sesuai standar atau pesanan khusus. Pembuatannya pada umumnya distel dipabrik.
II.    PEMBEBANAN PADA BEKISTING HORISONTAL
Dalam merencanakan bekisting, perhitungan yang digunakan adalah perhitungan gaya atau statika seperti pada Mekanika Teknik. Gaya-gaya yang diperhitungkan adalah gaya vertikal dan gaya horisontal. Analisis pada bahan bekisting seperti kekuatan terhadap Tegangan dan gaya geser akibat beban vertikal atau horisontal dilakukan berdasarkan peraturan yang berlaku. Untuk bekisting sistem seperti PERI yang telah mempunyai standar tertentu biasanya dititik beratkan pada lendutan yang terjadi. Lendutan yang direkomendasikan oleh ACI adalah sebesar L/360.
Gaya vertikal yang harus diperhitungkan dalam perencanaan bekisting adalah:
  1. Beban Mati, antara lain        : Berat sendiri Beton, berat bekisting, baja tulangan dan Tumpukan sementara material
  2. Beban Hidup, antara lain      : Tenaga Kerja + alatBeban-beban tersebut harus mampu ditahan oleh bekisting sesuai dengan batas yang diijinkan dan dengan mempertimbangkan pula faktor keamanan. Di bawah ini adalah rekomendasi dari beberapa negara maju dalam hal besarnya beban vertikal.
Rekomendasi dari ACI Committe 347 :
  1. Berat sendiri beton termasuk tulangan       = 150 lb per cu.ft  atau 2400 kg/m3
  2. Berat Bekisting                                      = 10 – 15 Psf  atau   50 – 75 kg/m2
  3. Beban Hidup minimum                              = 250 kg/m2
Rekomendasi dari Australia :
  1. Berat sendiri beton termasuk tulangan       = 2400 kg/m3
  2. Berat Bekisting                                      = 30 – 75 kg/m2
  3. Beban Hidup minimum                              = 150 - 250 kg/m2
 VI.        TIPE BEKISTING HORISONTAL
Tipe atau jenis dari bekisting horisontal seperti bekisting untuk Balok dan Slab/lantai terdiri dari berbagai macam, tergantung kepada ciri khas dari subkon bekisting. Umumnya tipe bekisting untuk lantai yang beredar di Indonesia adalah sebagai berikut:
-          Multiflex, yaitu rangkaian lembaran plywood atau pelat besi yang di topang oleh balok sekunder serta balok primer yang di gelar di atas mainframe seperti scaffolding atau PD -8. Bekisting sistem Multiflex dirangkai pada tiap lantai yang akan di cor dan dibongkar pada waktu akan terjadi pemindahan bekisting ke lantai berikutnya.
-          Table Form, yaitu rangkaian lembaran plywood atau pelat besi yang di topang oleh balok sekunder serta balok primer yang di gelar di atas mainframe seperti scaffolding atau PD -8. Bedanya dengan sistem Multiflex adalah pada waktu akan terjadi pemindahan bekisting, sistem ini cukup dengan menurunkan posisi bekisting dengan cara menurunkan posisi jack di kaki mainframe, sehingga rangkaian bekisting tidak perlu dibongkar dan dapat di dorong untuk kemudian di angkat oleh Tower Crane ke lantai berikutnya. Table Foerm cocok jika digunakan pada lantai type Flat Slab (Lantai tanpa Balok).
-          Horry Beam, yaitu berupa truss beam yang bisa di stel panjangnya untuk di letakan pada sideform bekisting balok dengan jarak tertentu untuk kemudian lembaran plywood tinggal di gelar/dipasang di atasnya sehingga Mainframe tidak diperlukan lagi. Dengan sistem ini, beban lantai disalurkan Horry ke Bekisting Balok, sehingga jarak antar kaki dari mainframe balok akan lebih rapat jika dibandingkan dengan dua tipe bekisting di atas .
 Bersambung……………
READ MORE

Tuesday, July 5, 2011

Semua Tentang Semen

Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau Buton
Benar atau tidak, cerita, legenda tadi menunjukkan dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana.
Baru pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar tahun 1700-an M), John Smeaton - insinyur asal Inggris - menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Ironisnya, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan cikal bakal semen ini. Adalah Joseph Aspdin, juga insinyur berkebangsaan Inggris, pada 1824 mengurus hak paten ramuan yang kemudian dia sebut semen portland. Dinamai begitu karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah liat Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak dipajang di toko-toko bangunan.
Sebenarnya, adonan Aspdin tak beda jauh dengan Smeaton. Dia tetap mengandalkan dua bahan utama, batu kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan tanah lempung yang banyak mengandung silika (sejenis mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina) serta oksida besi. Bahan-bahan itu kemudian dihaluskan dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai terbentuk campuran baru.
Selama proses pemanasan, terbentuklah campuran padat yang mengandung zat besi. Nah, agar tak mengeras seperti batu, ramuan diberi bubuk gips dan dihaluskan hingga berbentuk partikel-partikel kecil mirip bedak.
Lazimnya, untuk mencapai kekuatan tertentu, semen portland berkolaborasi dengan bahan lain. Jika bertemu air (minus bahan-bahan lain), misalnya, memunculkan reaksi kimia yang sanggup mengubah ramuan jadi sekeras batu. Jika ditambah pasir, terciptalah perekat tembok nan kokoh. Namun untuk membuat pondasi bangunan, campuran tadi biasanya masih ditambah dengan bongkahan batu atau kerikil, biasa disebut concrete atau beton.
Beton bisa disebut sebagai mahakarya semen yang tiada duanya di dunia. Nama asingnya, concrete - dicomot dari gabungan prefiks bahasa Latin com, yang artinya bersama-sama, dan crescere (tumbuh). Maksudnya kira-kira, kekuatan yang tumbuh karena adanya campuran zat tertentu. Dewasa ini, nyaris tak ada gedung pencakar langit berdiri tanpa bantuan beton.
Meski bahan bakunya sama, "dosis" semen sebenarnya bisa disesuaikan dengan beragam kebutuhan. Misalnya, jika kadar aluminanya diperbanyak, kolaborasi dengan bahan bangunan lainnya bisa menghasilkan bahan tahan api. Ini karena sifat alumina yang tahan terhadap suhu tinggi. Ada juga semen yang cocok buat mengecor karena campurannya bisa mengisi pori-pori bagian yang hendak diperkuat.
sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Semen#Sejarah

Bagi yang memerlukan standard dari jenis jenis semen silahkan berkunjung ke http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni/6967 atau bisa langsung ambil di sini. Berikut adalah SNI untuk semen :
1.SNI 15-2049-2004 Semen Portland
2.SNI 15-3500-2004 Semen Portland Campur
3.SNI 15-3758-2004 Semen Masonry
4.SNI 15-7064-2004 Semen Portland Komposit
5.SNI 15-0129-2004 Semen Portland Putih
6.SNI 15-0302-2004 Semen Portland Pozolan
Untuk lebih lengkapnya lagi tentang semen, berikut ini adalah animasi proses pembuatan semen, saya sarankan anda untuk mengeksplore site tersebut karena disitu semen secara lengkap di kupas dengan tampilan menarik dan jelas.
READ MORE