Wednesday, June 29, 2011

Analisa Harga Satuan untuk Gedung (Versi terbaru)

Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebuah proyek tidak terlepas dari Analisa Harga Satuan. Analisa Harga Satuan tersebut di buat berdasarkan hasil rekaman data sekunder yang diperoleh dari narasumber seperti BUMN, kontraktor dan data sebelumnya yaitu BOW serta Data Primer yang dilakukan Badan Standardisasi Nasional dengan cara penelitian langsung di lapangan sebagai cross check terhadap data sekunder, yang menghasilkan koefisien untuk Pekerja dan  Material persatuan Luasan ataupun volume untuk masing masing jenis pekerjaan.
Secara berkala, BSN menyusun SNI Analisa Harga Satuan Pekerjaan sebagai acuan untuk membuat RAB sebagai kontrol biaya khususnya bagi Konsultan  sebagai perencana dan kontraktor sebagai pelaksana proyek.
Berikut ini adalah Analisa Harga Satuan versi terbaru:
1.Analisa Pekerjaan Tanah SNI-2835-2008
2.Analisa Pekerjaan Pondasi SNI-2836-2008
3.Analisa Pekerjaan Besi SNI-7393-2008
4.Analisa Pekerjaan Beton SNI-7394-2008
5.Analisa Pekerjaan Dinding SNI-6897-2008
6.Analisa Pekerjaan Plesteran SNI-2837-2008
7.Analisa Pekerjaan Kayu SNI-3434-2008
8.Analisa Pekerjaan Plafond SNI-2839-2008
9.Analisa Pekerjaan Penutup Lantai dan Dinding SNI-7395-2008
Bagi yang membutuhkan SNI tersebut silahkan diunduh dengan syarat mengisi komen atau buku tamu karena “keberadaan” blog ini tergantung juga pada anda semua sebagai pengunjung yang ramah.
sumber:http://sisni.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/
Terimakasih.
READ MORE

Tuesday, June 28, 2011

ALEXA RANK

 

Alexa....Alexa...,..hmm bingung juga mau nulis apa ya..? aku hanya mengerti bahwa alexa rank merupakan peringkat dari sebuah situs atau website.Yang jelas pagi ini ketika membuka blog aku via google, ternyata blog aku yang baru berusia 35 hari  dengan jumlah 13 postingan  telah mendapat ranking dari Alexa  dengan peringkat 18.891.763 (wow…besar amat ya…hehe).
Sebenarnya aku tidak terlalu mementingkan masalah peringkat alexa, apalagi blog fujiboga bukan sebuah blog pemasaran produk.Meskipun demikian, suatu hal yang wajar jika terselip rasa bangga karena bukan saja perjuangan sebuah website untuk duduk di peringkat atas Alexa sangat susah, untuk bisa "diakui" oleh Alexa saja katanya susah, sehingga wajarlah jika banyak blog yang membahas tip dan trik tentang hal ini.
Untuk itu pagi ini aku ingin aku ucapkan banyak terimakasih pada semua bloger yang telah memberikan tips dan trik blog, kepada pengunjung blog fujiboga (meski masih sepi dari komen…) terutama kepada follower fujiboga serta Alexa, tentunya.
Semoga hal ini merupakan penyemangat bagiku untuk bisa posting materi yang berbobot serta gaya penulisan yang semakin baik.
READ MORE

Tuesday, June 21, 2011

Tata cara Uji Sample Beton

Postingan kali ini tidak ada ringkasan atau penjelasan terhadap judul di atas, karena saya sendiri tidak begitu faham dengan prosedur dan tata cara mengenai pembetonan . Namun meskipun demikian, sebagai bahan acuan di proyek ataupun penambah wawasan kita mengenai beton, berikut ini adalah SNI terbaru tahun 2008 tentang beton :
1. Cara Uji Berat Isi, Volume dan Kadar Udara Beton, SNI-1973-2008  
2. Tata Cara Pengambilan Contoh Uji Beton Segar, SNI-2458-2008  
3. Cara Uji Slump Beton, SNI-1972-2008

File tersebut diambil dari

Semoga bermanfaat.
READ MORE

Hubungan Hasil Tes Uji Tekan Beton dengan Bongkaran Bekisting

Untuk mengetahui Mutu beton yang akan digunakan dalam sebuah proyek diantaranya adalah dengan melakukan :
  1. Uji Slump, untuk mengetahui kadar air atau keenceran adukan beton
  2. Uji Kuat Tekan, diuji dengan standar ASTM C39-86 dengan pemberian beban tekan incremental/bertahap pada silinder beton (diameter 150 mm, tinggi 300 mm) sampai hancur. umumnya dibuat 9 sample dimana 3 digunakan untuk test pada saat umur beton 7hari (misal kekuatan beton 70 % dari fc'), 3 pada saat umur beton 14 hari (misal kekuatan beton 85-90 % dari fc') dan sisanya untuk 28 hari (kekuatan beton 100 % dari fc')
Seperti diketahui, umumnya pekerjaan bekisting pada proyek sipil dengan volume beton yang besar biasanya dikerjakan oleh sub kontraktor atau bisa dengan sistem rental. Data hasil Uji tekan yang dikeluarkan oleh laboratorium seperti pada point 2 di atas tentunya sangat penting terutama bagi para engineer proyek, diantaranya untuk kegiatan bongkaran Bekisting  .
Berbicara tentang lamanya bongkaran bekisting tentunya akan menyangkut pada besaran biaya borongan bekisting atau harga rental alat bekisting disamping mutu dari hasil cor beton yang tetap harus baik dan terhindar dari crack atau retakan beton akibat bongkaran bekisting sebelum beton mencapai kekuatan maksimalnya.

Untuk menentukan berapa lama bekisting dapat di bongkar tanpa menimbulkan crack atau lendut pada balok atau lantai beton tentunya harus melalui prosedur ijin bongkar dari konsultan serta hasil analisa statik terhadap umur beton.

Waktu yang tepat untuk melakukan  Bongkaran bekisting tentunya tergantung pada bagian struktur beton dan kelas beton yang digunakan serta metode bongkaran yang digunakan. Contohnya Bongkaran pada kolom beton bisa dilakukan 12 jam setelah pengecoran, kemudian pada Lantai dengan sistem balok, bekisting slab beton boleh lebih dulu di bongkar pada umur beton minimal 6 hari dengan syarat langsung di shoring atau di tumpu oleh pipa support pada jarak tertentu, sementara balok nya di bongkar pada umur 10 hari. Kemudian Bagaimana dengan Lantai sistem Flat slab yang tidak ada baloknya karena diganti drop panel ?...wah…jadi terlalu panjang deh bahasannya……

Intinya semua itu perlu di lakukan analisa statik, dengan memasukan umur beton pada saat bongkaran akan dilakukan. Mohon maklum jika bahasannya terlalu melebar…maklum biasa membaca…jadi begitu menulis malah susah..hmmm


Dengan demikian, ada baiknya jika seorang engineer proyek khususnya engineer dari pihak subkon bekisting untuk membiasakan diri membuat dokumentasi data hasil uji tekan beton pada tiap proyek untuk memudahkan perhitungan bongkaran bekisting. Mengapa hal ini perlu?..karena harga kontrak bekisting tentunya berdasarkan jumlah penyediaan per lantai ,sementara perhitungan bongkaran bekisting tentunya berdasarkan kuat tekan beton yang diasumsikan karena betonnya belum ada…!!!. Jika harga penawaran yang diajukan adalah 2 Lantai susunan perancah + bekisting  dan 2 lantai pipe support ternyata pada pelaksanaannya malahan menjadi 3 Lantai susunan perancah + bekisting  dan 2 lantai pipe support bisa repot…alias rugi…

Untuk menghindari hal tersebut, minimal subkon bekisting menyertakan perhitungan statik bekisting dan bongkaran bekisting berdasarkan data hasil Uji Tekan Beton pada proyek-proyek sebelumnya sesuai kelas betonnya baik beton normal  ataupun beton dengan admixture.

Berikut ini adalah contoh sederhana Grafik Kuat Tekan Beton pada proyek Apartemen di kawasan SCBD  Sudirman Jakarta. Data tersebut adalah hasil uji tekan umur beton 7hari, 14 hari dan 28 hari. Dengan bantuan grafik ini minimal kita bisa mengasumsikan kuat tekan beton pada umur 5 hari,6 hari sesuai kebutuhan untuk menghitung bongkaran bekisting.


READ MORE

Sunday, June 12, 2011

PERHITUNGAN BEKISTING KOLOM

Melengkapi Postingan sebelumnya,yaitu pembebanan pada bekisting vertikal ,pada postingan kali ini saya mencoba membuat contoh perhitungan bekisting kolom.Karena saya hanya mempunyai brosur bekisting PERI, maka bekisting kolom yang di hitung adalah bekisting PERI.


Meskipun demikian, jika diterapkan pada bekisting kolom konvensional, urutan perhitungan tidak berbeda, yang berbeda hanyalah material propertiesnya saja.Dengan kata lain material propertiesnya tinggal diganti  sesuai jenis bahan yang digunakan.

Perlu diingatkan, bahwa perhitungan ini hanyalah sebagai penambah referensi saja, karena jika dihadapkan pada proyek yang sebenarnya, Bekisting PERI akan menyediakan perhitungan statik dan supervisinya.

Selamat membaca dan mendownload contoh perhitungan statiknya.
READ MORE

Sunday, June 5, 2011

Pembebanan pada Bekisting Vertikal

Perhitungan beban untuk bekisting vertikal seperti Dinding dan kolom dipengaruhi oleh berbagai faktor utama yaitu:

1. Kecepatan cor
2. Kelas Beton Segar, apakah K1, K2 atau K3
3. Tinggi jatuh beton ke bekisting vertikal

Kecepatan Cor

Sederhananya, yang dimaksud kecepatan cor di sini adalah berapa lama waktu cor bekisting vertikal dengan volume tertentu tercapai. Disini tentunya akan berbeda antara kecepatan cor dengan menggunakan concrete pump dan dengan menggunakan bucket,serta kecepatan cor yang diterima oleh bekisting kolom dengan bekisting dinding.


Kelas Beton Segar dan Tekanan Hidrostatis

Kelas beton yang akan di cor kan,mempengaruhi tinggi tekanan hidrostatiknya.semakin cair betonnya, maka akan semakin tinggi tekanan hidrostatiknya.



                           Tekanan Hidrostatik Air dan Beton segar

Tinggi Jatuh Cor

Tinggi jatuh Cor atau jarak nozzle dari bekisting memepengaruhi pembebanan terhadap bekisting.Semakin tinggi posisi nozzle atau selang pada bucket,maka akan mengakibatkan gaya kejut pada bekisting, untuk kolom ukuran 90 cm ke atas biasanya terpasang tie rod untuk menyalurkan tekanan beton segar. Jika tinggi cor terlalu tinggi dan jatuhan beton cair terkena pada tie rod, maka tie rod yang fungsinya sebagai batang tarik, akan bengkok bahkan bisa putus.

Contoh 1:

Menentukan kecepatan Cor pada kolom 70 x 70 cm, tinggi 4 meter.

Data:
     -   Cor menggunakan Bucket, misal dengan volume 0,5 m3
-         Asumsi waktu penuangan beton dari bucket ke bekisting adalah 5 menit.
-         Asumsi Jeda waktu antara pengisian bucket dan jangkauan TC ke bekisting kolom adalah 10 menit

Maka:

Volume Beton kolom = 0,7 m x 0,7 m x 4m = 1,96 m3
Jumlah Penuangan dari Bucket = 1,96 m3/0,5 m3 = 3,92 ≈ 4 kali
Lama Pengecoran = 5 menit cor pertama  + 10 menit jeda + 5 Menit cor ke dua + 10 Menit jeda + 5 Menit cor ke tiga + 10 Menit jeda + 5 menit cor ke empat = 50 menit atau 0,83 jam

Sehingga didapat Kecepatan cor untuk kolom 70 x 70, H= 4 meter adalah 4 m / 0,83 jam = 4,8 meter/jam

Pada saat awal pembangunan sebuah gedung, dimana jumlah lantai masih terjangkau oleh selang concrete pump, biasanya pengecoran langsung dari concrete pump. Tentunya kecepatan cor nya akan lebih tinggi dibandingkan dengan Bucket. Belum di tambah dengan beban kejut akibat daya dorong pompa.semakin tinggi lantai gedung, akan menambah tenaga dorong dari Pompa.Hal ini perlu di koordinasikan dengan pihak subkont beton, berapa kecepatan cor maksimum yang tercapai berdasarkan pengalaman cor di proyek. Menurut DIN 18218 kecepatan cor maksimum sebaiknya 7 meter/jam.

Contoh 2:

Menentukan kecepatan Cor pada Wall Tebal 25 cm, tinggi 4 meter.

Data:
-   Cor menggunakan Bucket, misal dengan volume 0,5 m3
-         Asumsi waktu penuangan beton dari bucket ke bekisting adalah 3 menit.
-         Asumsi Jeda waktu antara pengisian bucket dan jangkauan TC ke bekisting kolom adalah 5 menit
-         Panjang Bekisting yang dipersiapkan 10 meter



Maka:

Volume Beton Wall = 0,25 m x 10 m x 4m = 10 m3
Jumlah Penuangan dari Bucket = 10 m3/0,5 m3 = 20 kali
Lama Pengecoran = 3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3+5+3….+3 =
155 menit atau 2,6 jam

Sehingga didapat Kecepatan cor untuk wall adalah 4 m / 2,6 jam = 1,5 meter/jam. Jika menggunakan 2 TC, maka kecepatan cor nya adalah 3 meter/jam.

Angka kecepatan Cor pada contoh 1 dan contoh 2 di atas tinggal di plotkan ke tabel Fress Concrete Pressure. Pada figure 2 DIN 18218, untuk cor kolom dengan speed 4,8 meter/jam dan Kelas Beton K3 di dapat harga tekanan Beton sebesar 90 KN/m2 dengan tinggi hydrostatik = 3,5 meter.

Demikian Bahasan kali ini, sebagai acuan untuk mendisain bekisting Kolom dan Wall. Untuk mempermudah proses perhitungan pembebanan, sebenarnya bisa menggunakan Tabel Kecepatan Cor seperti DIN 18218, ACI, DMR dan Etingsausen . Dari Semua Tabel di atas Speed terendah adalah dari ACI dan Speed tertinggi adalah DIN 18218.

Sebagai bahan panduan, silahkan klik disini untuk mendownload Tabel Kecepatan Cor dan Tekanan Beton Segar berdasarkan DIN 18218.

Sebelum mendownload, silahkan isi komentarnya dengan baik. Mudah2an menjadi penyemangat untuk membuat posting materi selanjutnya .
READ MORE

Thursday, June 2, 2011

BISNIS BANDO

Kita semua tentu sering melihat sejenis billboard yang melintang di jalan raya, ya.. mirip dengan Bondu atau hiasan rambut wanita, cuma kalo yang saya maksud ini adalah Bando. Struktur bando ini difungsikan untuk menempelkan space iklan di jalan raya. Agak berbeda dengan Billboard yang umumnya mempunyai 1 tiang saja karena di letakkan di pinggir jalan, maka untuk bando minimal mempunyai 2 tiang atau 2 group tiang,tergantung profil baja yang digunakan pada tiang Bando.

Bando sangatlah effektif dalam mengiklankan sebuah produk, mengingat ukuran space iklan yang bisa mencapai lebar badan jalan raya sehingga dapat di lihat dengan jelas oleh pengguna jalan, baik pejalan kaki maupun yang memakai kendaraan. Terlebih lagi jika Bando letaknya berada pada jalan yang tingkat lalulintasnya sangat tinggi seperti di jalan Utama. Jadi sangat disayangkan jika Bando dipasang di jalan yang sepi..hehe...pemilik produk tentunya tidak akan mau menyewa Bando tersebut.

Lokasi Bando tentunya sangat  mempengaruhi pada segmen pasar yang diinginkan, sehingga kalau kita perhatikan, khususnya di Bandung, iklan mobil mewah biasanya terletak pada Bando yang berada dekat dengan pusat perbelanjaan dan kawasan elit. Sehingga otomatis harga sewa sebuah Bando akan berbeda tergantung pada strategis tidaknya lokasi Bando tersebut.

Dengan demikian, jika kita berniat  untuk bisnis penyewaan Bando, maka kita harus mendapat lokasi yang strategis,sehingga Bando yang kita buat akan disewa oleh pemilik produk dengan kesinambungan.Sayang jika bando yang dibuat dengan biaya yang tidak sedikit ternyata pada akhirnya hanya berupa rangka baja saja karena space iklan yang ada kosong.

Nah, jika kita tertarik dengan bisnis Penyewaan bando,Khusus untuk kota bandung, syarat dari pendirian Bando tidaklah rumit. Prosedur yang mesti di tempuh adalah sebagai berikut:

  1. Buatlah gambar desain Bando sesuai yang kita inginkan
  2. Tentukan titik lokasi Bando yang kita inginkan, di lokasi yang kira-kira strategis.
  3. Konsultasikan dengan instansi terkait seperti BAPPEDA, Dinas Tata Bangunan dan Dinas Pertamanan.
  4. Minta Agenda ekspose pembuatan Bando antar Dinas terkait di atas, sehingga rencana kita terkoordinasi dengan baik.
  5. Setelah Ekspose tadi, jika responnya baik, biasanya nanti akan ada undangan untuk survey lokasi bersama Dinas terkait di atas
  6. Setelah Lokasi rencana titik Bando di setujui, selanjutnya kita akan dihadapkan pada perijinan. Jika di depan Bando yang akan didirikan telah berdiri pertokoan, kantor atau tempat tinggal, maka sebelum mengajukan ijin ke Walikota tentunya ijin dari “tetangga” Bando harus sudah beres.


Desain Bando

Dalam mendesain sebuah Bando, aspek arsitektural sangat penting. Bentuk konstruksi Bando hendaknya di lengkapi dengan hiasan yang mencerminkan budaya setempat, sehingga calon Penyewa Bando kita serta pengguna jalan yang melihat Bando kita akan tertarik.

Adapun syarat teknis dari pendirian Bando di kota Bandung adalah sebagai berikut:
  1. Posisi Bando yang akan didirikan minimal berjarak 100 meter terhadap bando yang telah ada dan 50 meter terhadap Billboard yang sudah ada.
  2. Posisi Bando yang akan didirikan minimal berjarak 50 meter dari belokan jalan atau persimpangan jalan
  3. Tinggi gawangan Struktur Bando dari Permukaan Badan jalan minimal 5,5 meter.
  4. Tinggi Space Iklan maksimal 3 meter
  5. Lebar Space Iklan bisa selebar badan jalan, dengan syarat luasan Space iklan tidak lebih dari 32 m2. Jadi kalau tinggi nya 3 meter, panjang maksimal nya adalah < 11 meter

Dari segi Kekuatan struktur dan ekonomi, hendaknya dalam mendesain struktur Bando memperhatikan berat struktur bandonya.Tentunya ini berhubungan dengan profil Baja apa yang digunakan. Struktur Bando terdiri dari 2 tiang atau 2 grup tiang yang dihubungkan dengan rangka batang/truss, dimana beban pada space iklan, baik berat sendirinya serta beban angin akan disalurkan oleh truss ke tiang bando untuk selanjutnya disalurkan ke pondasi. Semakin Ringan Struktur Bando, maka akan semakin murah biayanya serta jika beban gempa terjadi, struktur yang ringan akan lebih kecil menerima beban gempa dibandingkan dengan struktur bando yang lebih berat.

Sebagai pelengkap,berikut ini  adalah contoh gambar  dari Bando:

READ MORE

Wednesday, June 1, 2011

Tentang JPO

Menyedihkan…itulah kata pertama yang terlintas begitu aku keliling kota tercinta,  untuk melihat sejumlah JPO ( Jembatan Penyebrangan Orang ) di kota Bandung. Menyedihkan karena melihat keberadaan JPO yang umumnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Di tengah kesibukan kota, umumnya pejalan kaki merasa enggan untuk menyebrang jalan lewat JPO. Tentunya dengan berbagai macam alasan, seolah JPO hanya sekedar monumen yang melintasi jalan raya dan berfungsi hanya sebagai tempat menempelkan reklame saja, bahkan beberapa JPO menjadi tempat tidur siang pengemis atau apapun namanya.

Hmm..singkatnya..., sebagai seorang Civil Engineer, saya akan membicarakan JPO dari aspek teknis dan disain saja. Hal hal lain yang menyangkut peningkatan kesadaran pejalan kaki biarlah menjadi tugas pribadi masing masing serta pihak terkait.

Desain JPO*

Disain jembatan penyeberangan biasanya menggunakan prinsip yang sama dengan jembatan untuk kendaraan. Tetapi karena biasanya lebih ringan dari jembatan kendaraan, pada desain JPO biasanya mempertimbangkan getaran dan efek dinamik dari penggunanya. Di samping itu masalah estetika juga menjadi pertimbangan penting dalam membangun JPO terutama di jalan-jalan protokol dimana desain arsitektur menjadi pertimbangan yang penting.

Variabel yang mempengaruhi penggunaan JPO*
  • Kepadatan lalulintas
  • lebar jalur
  • lokasi
  • aksesibilitas
  • pagar di sekitar trotoar
  • penegakan hukum terhadap pelanggar larangan menyeberang di jalan kendaraan bila sudah memiliki JPO

  *Sumber diambil dari wikipedia

Kombinasi JPO dengan perbelanjaan

                           JPO METRO SOEKARNO HATTA

Salah satu pendekatan yang digunakan dikawasan perbelanjaan yang ramai untuk meminimalisasi kemacetan dan kecelakaan pada jalur cepat adalah  dengan mengkombinasikan JPO dengan pertokoan/perbelanjaan seperti:
  • JPO di Pasar Kosambi
  • JPO di ITC Kebun kelapa
  • JPO di Pasar Baru
  • JPO di Pusat Perbelanjaan BSM
  • JPO di BIP jalan Merdeka
  • JPO Metro Soekarno hatta

Hasil Pengamatan secara  visual

Dari hasil pengamatan , umumnya Kondisi JPO yang ada di bandung masih baik kecuali JPO yang ada di Pasar Baru. Perlu adanya check kelurusan JPO Pasar Baru, karena secara visual terlihat adanya Lendutan di tengah bentang. Padahal secara Beban, JPO ini hanya menahan berat sendirinya, beban angin dan hujan dan gempa yang pernah terjadi, karena JPO ini sudah jarang sekali di gunakan pejalan kaki.

Umumnya, konstruksi JPO terbuat dari Baja, dimana dimensi Gelagarnya adalah WF 300x150. Sementara Tiangnya ada yang menggunakan WF dan Pipa 10” seperti JPO Kosambi.

Pemeriksaan dan re analisis Struktur

Mengingat pentingnya keberadaan JPO dan keselamatan para pengguna jalan, tentunya JPO yang masih berdiri harus tetap memenuhi syarat layannya. Dampak Hujan, gempa yang pernah terjadi  dan Umur dari JPO tentunya mempengaruhi akan sisa kekuatan dari JPO tersebut.

Sebagai seorang engineer, jika suatu saat ditanya tentang masih layak atau tidaknya dari sebuah JPO yang telah berdiri , tentunya kita harus bisa menjawabnya meskipun pemeriksaan atau re analisis terhadap kelayakan struktur JPO tentunya akan berbeda dengan ketika struktur JPO itu di desain.
 
Langkah –langkah Pemeriksaan

A.     Pengumpulan Data

1.     Minta gambar Struktur dari pemberi tugas misal dalam hal ini Dinas Terkait
2.   Alangkah baiknya jika Hasil Perhitungan Struktur JPO tersebut masih ada, sehingga akan lebih memudahkan kita dalam menganalisa ulang kekuatan struktur.

B.     Investigasi Lapangan

  1. Periksa kondisi Cat pada baja JPO apakah masih melekat dengan baik?
  2. Jika tidak apakah pada cat yang mengelupas terjadi karat yang parah?
  3. Jika karat yang terjadi masih ringan maka rekomendasikan bahwa pengecatan ulang harus segera dilakukan. Alangkah baiknya jika direkomendasikan sebelum dilakukan pengecatan dilakukan proses sandblasting terlebih dahulu, karena dengan sandblasting atau penyemprotan abrasive material berupa pasir silika atau steel grit, mampu menghilangkan material kontaminasi seperti karat akibat oksidasi dan zat asam dari air hujan.
  4. Apabila Karat yang terjadi telah parah, maka cara sederhana adalah dengan melakukan pengerikan dengan cutter secara hati hati pada area Profil baja kira kira 3 cm x 3 cm minimal 2 titik. Jika Profilnya WF, maka usahakan membuat area uji sample pada derah WEB dan Flange. Hentikan pengerikan jika permukaan baja sudah mengkilat. (cara pengerikan dilakukan karena tidak memungkinkan untuk memotong batang baja dan di uji di lab)
  5. Lakukan pengukuran ketebalan hasil pengerikan tadi.
  6. Proses pada point 1 s/d 5 adalah untuk menentukan ketebalan baru dari profil baja setelah dikurangi ketebalan karat pada profil, setelah selesai lanjutkan dengan pengukuran ketinggian JPO terhadap Kolom Baseplate. Lanjutkan pengukuran terhadap panjang JPO dan struktur pelengkap seperti Railing dan lain-lain. Hal ini sebagai bahan untuk perhitungan ulang, karena bisa saja antara gambar struktur dengan di lapangan akan lain.
  7. Check kelurusan badan JPO. Apakah terjadi lendutan permanen, terutama di tengah bentang JPO.
 C.    Perhitungan Kembali Struktur JPO

1. Jika ada kesesuaian antara gambar struktur, hasil perhitungan ( print out) perencanaan dan keadaan di lapangan, serta tidakterjadi karat yang berarti, maka langkah selanjutnya adalah memeriksa Tegangan yang terjadi pada masing masing profil baja JPO (lihat pada perhitungan struktur desain yang lama) serta menentukan lendutan ijin dari JPO tersebut.
2. Jika ada ketidaksesuaian antara gambar struktur, hasil perhitungan dengan keadaan lapangan serta terjadinya karat yang cukup parah, maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan perhitungan ulang dimana ketebalan dari profil yang kita hitung tentunya ketebalan setelah dikurangi pengerikan karat.
3.  Misal hasil perhitungan baru dari JPO dengan bentangan 21 meter adalah sebagai berikut:

Tegangan maksimum:

Tegangan Maksimum akibat Beban Kombinasi,   
σ max = 874,5 kg/cm2
Untuk Mutu Baja ST-37, maka  σ ijin = 1600 kg/cm2

Jika Umur layan JPO adalah 10 tahun, dan sisa umur layan tinggal 7 tahun lagi, dengan mempertimbangkan faktor kelelahan dan lain lain maka diasumsikan Tegangan Ijin Baja tinggal 70% nya atau 1120 kg/cm2

Sehingga Karena σ max = 874,5 kg/cm2   < 1120 kg/cm2 ....maka secara Kekuatan, JPO masih Kuat.
 
Lendutan Maksimum:

Lendutan Maksimum JPO = 25,6 mm 

Besarnya lendutan ini di batasi oleh peraturan, di mana untuk baja pada SNI 03-1729-2002 besarnya lendutan dibatasi tidak boleh lebih dari L/240, dimana L dihitung dalam mm.
 Maka Lendutan Ijin = 21000 mm / 240 = 87,5 mm

Nah, Secara hitungan ternyata JPO masih layak karena ∆ max = 25,6 mm < 87,5 mm..............ok
 Kemudian bandingkan dengan hasil check kelurusan waktu investigasi lapangan.

Selamat membaca....saran dan masukkannya sangat saya harapkan.








READ MORE